Selasa, 21 Oktober 2008

MENJADI MANUSIA YANG BERKEPRIBADIAN AL-FATIHAH

MENJADI MANUSIA YANG BERKEPRIBADIAN AL-FATIHAH

Firman Allah swt

Artinya;

“(1). Dengan (atas) nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (2). Segala puji (hanyalah) bagi Allah, Tuhan semesta alam. (3). Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (4). Yang menguasai di hari pembalasan. (5). Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (6). Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. (7). (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.s. al-Fatihah: 1-7).

Surah al-Fatihah mungkin tidak asing lagi di lidah dan di telinga sebagian besar kaum muslimin, karena surah ini selalu dibaca diberbagai tempat, di berbagai waktu, dan di berbagai keperluan; Di pondok-pondok pesantren, di madrasah-madrasah, dan di kampus-kampus yang berlabel Islam, para santri, para pelajar dan para mahasiswanya biasa membacanya di saat hendak memulai pelajaran atau perkuliahan. Di waktu hendak memulai membaca do’a dalam berbagai macam acara, seperti dalam berbagai macam acara peribadatan, dalam berbagai macam acara perkawinan, dalam berbagai macam acara syukuran, dalam berbagai macam acara kematian, dan sebagainya, baik itu diadakan di masjid-masjid, atau diadakan dirumah-rumah, atau diadakan di hotel-hotel, atau diadakan diatas kuburan-kuburan, para pemuka agama biasa mengajak seluruh jama’ah atau hadirin untuk membacanya di saat hendak memulai membaca do’a. Dan utamanya lagi di saat-saat melaksanakan sholat fardhu maupun sholat sunat, di setiap raka’at, kaum muslimin diwajibkan membacanya, karena tidaklah sah sholat bagi orang yang tidak membaca surah al-Fatihah. Hal ini sebagaimana ditegaskan Rasulullah saw dalam haditsnya: “Tidaklah ada sholat bagi orang yang tidak membaca surah al-Fatihah”.

Namun ironisnya kalimat penegasan demi kalimat penegasan (affirmation) yang terdapat dalam surah al-Fatihah yang tidak asing lagi di lidah dan di telinga sebagian besar kaum muslimin ini, tidak mampu memberikan perubahan-perubahan yang berarti pada kepribadian sebagain besar kaum muslimin. Seperti contoh: Setiap hari umat Islam mengucapkan kalimat Bismillaahir rahmaanir rahiim minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam, namun seiring dengan itu masih banyak pula kita temukan umat Islam yang memuja ego(ananiyah)nya, dan melakukan perbuatan dan pekerjaan, serta hidup yang tidak dengan (atas) nama Allah, tidak sesuai dengan atau tidak berdasarkan atas kemauan atau kehendak Allah; Mereka tidak menfungsikan potensi hati, penglihatan, dan pendengarannya sesuai dengan kemauan atau kehendak Allah, seperti membaca dan merasakan ayat-ayat Syaithan untuk menutup dan mematikan cahaya iman, membaca hidayah-hidayah Allah (Qur’aniyah) untuk dijadikan bahan ejekan, hinaan dan merendahkan ketinggian al-Qur’an, dan membaca hidayah-hidayah Allah (Kauniyah) hanya untuk meraih kehidupan yang baik dan bahagia di dunia semata, membaca dan merasakan kondisi sosial untuk memanfaatkan kondisi tersebut demi kepentingan pribadinya semata, dan sebagainya. Mereka tidak menfungsikan potensi tangannya sesuai dengan kemauan atau kehendak Allah, seperti melukai, menyiksa dan membunuh manusia secara tidak hak, meraih rezeki Allah secara tidak halal (ex: mencuri, korupsi dsb), menyimpannya di tempat-tempat yang tidak halal (ex: lembaga-lembaga keuangan yang dalam prakteknya mengandung unsur riba), serta memperuntukkannya pada jalan-jalan yang sesat dan dibenci, dimurkai Allah. Mereka tidak menfungsikan potensi kakinya sesuai dengan kemauan atau kehendak Allah, seperti berjalan untuk mencari rezeki Allah secara tidak halal, berjalan menuju ke pasar untuk berbelanja barang-barang yang tidak halal, berjalan untuk memutus tali silaturrahmi, berjalan menuju tempat-tempat maksiat, dan sebagainya. Mereka tidak menfungsikan potensi perutnya sesuai dengan kemauan atau kehendak Allah, seperti memakan makanan yang tidak halal, meminum minuman yang tidak halal. Mereka menfungsikan potensi kemaluannya, menyalurkan kebutuhan seksualnya tidak sesuai dengan kemauan atau kehendak Allah, seperti berzina, berhubungan dengan sesama jenis. Mereka tidak memanfaatkan fasilitas jabatan, pengikut, dan kekayaannya sesuai dengan kemauan atau kehendak Allah. Dan mereka hidup; beragama, berpolitik, berekonomi, bersosial, berbudaya, dan bermiliter tidak sesuai dengan kemauan atau kehendak Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa mereka hidup adalah dalam rangka menjalankan tugas dan tanggung jawab dari Allah swt, Bismillaahir rahmaanir rahiim.

Setiap hari umat Islam mengucapkan kalimat Alhamdulillaahi rabbil ’aalamiin minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam, namun seiring dengan itu masih banyak pula kita temukan umat Islam yang tidak selalu ber-tasbih (membersihkan fikiran-fikiran negatif) dan tidak selalu ber-tahmid (membangun fikiran-fikiran positif) terhadap Allah, dan apabila mereka dipuji; baik pujian itu datang dari dirinya sendiri, maupun pujian itu datang dari orang lain, maka mereka tidak kembalikan pujian-pujian tersebut kepada Allah, dan mereka menjadi bangga diri dan sombong, dan menjadi enggan untuk hidup berdampingan dengan orang-orang yang dianggap rendah pada pandangan manusia; orang-orang yang punya jabatan enggan hidup berdampingan dengan orang-orang yang tidak punya jabatan atau rakyat-rakyat biasa, orang-orang yang punya kekayaan enggan hidup berdampingan dengan orang-orang yang tidak punya kekayaan atau orang-orang miskin, orang-orang yang punya kelebihan enggan hidup berdampingan dengan orang-orang yang tidak punya kelebihan atau orang-orang yang hidup dengan kekurangan. Dan lebih jauh lagi, mereka enggan untuk tunduk pada perintah-perintah Allah.

Setiap hari umat Islam mengucapkan kalimat Arrahmaanir rahiim minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam, namun seiring dengan itu masih banyak pula kita temukan umat Islam yang apabila dihadapkan pada berbagai macam permasalahan hidup, seperti: Ketika dihadapkan dengan berbagai macam penyakit, terlebih lagi penyakit tersebut tergolong penyakit yang paling berbahaya dan mematikan menurut perhitungan manusia, mereka hadapi dengan sikap gelisah, karena mereka merasa takut obat yang disediakan Allah di muka bumi akan habis, dan pesimis (tidak berpengharapan akan sembuh) selama kematian belum benar-benar menjemputnya, karena mereka merasa tidak percaya akan rasa kasih sayang Allah yang tidak terbatas tingginya, dan mereka merasa tidak percaya akan kuasa Allah yang mampu merubah segala apa yang telah menjadi ketetapan-Nya, dan mereka cenderung berdiam diri atau pasrah, bahkan cenderung berusaha mengakhiri hidupnya. Ketika dihadapkan dengan berbagai macam kesulitan ekonomi, terlebih lagi kesulitan ekonomi tersebut tergolong kesulitan ekonomi tingkat tinggi; makanan dan minuman sudah tak terbeli, rumah tak punya, hutang tak terbayarkan, mereka hadapi dengan sikap gelisah, karena mereka merasa takut makanan dan minuman, rumah, dan kekayaan lainnya yang disediakan Allah di muka bumi akan habis, dan pesimis (tidak berpengharapan akan hidup sejahtera) selama perjalananan karirnya belum benar-benar berakhir, karena mereka merasa tidak percaya akan rasa kasih sayang Allah yang tidak terbatas tingginya, dan mereka merasa tidak percaya akan kuasa Allah yang mampu merubah segala apa yang telah menjadi ketetapan-Nya, dan mereka cenderung berdiam diri atau pasrah, bahkan cenderung mengakhiri hidupnya. Dan ketika dihadapkan dengan berbagai macam dosa, terlebih lagi dosa-dosa tersebut tergolong dosa-dosa besar, mereka hadapi dengan sikap gelisah, karena mereka merasa pengampunan Allah akan habis, dan pesimis (tidak berpengharapan akan terbebas dari dosa-dosa) selama pintu taubat yang diberikan oleh Allah belum benar-benar tertutup, karena mereka merasa tidak percaya akan rasa kasih sayang Allah yang tidak terbatas tingginya, dan mereka merasa tidak percaya akan kuasa Allah yang mampu merubah segala apa yang telah menjadi ketetapan-Nya, dan mereka cenderung berdiam diri atau pasrah, bahkan cenderung menjerumuskan diri ke lembah dosa yang lebih besar lagi.

Setiap hari umat Islam mengucapkan kalimat Maalikiyaumiddiin minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam, namun seiring dengan itu masih banyak pula kita temukan umat Islam yang tidak terikat hatinya pada hukum-hukum Allah; Mereka merasa senang, tenang dan bahagia apabila segala apa yang diperbuat atau dikerjakannya dinilai benar oleh hukum-hukum manusia, sekalipun hukum-hukum Allah menilainya salah. Sebaliknya mereka merasa sedih, gelisah dan menderita apabila segala apa yang diperbuat atau dikerjakannya dinilai salah oleh hukum-hukum manusia, sekalipun hukum-hukum Allah menilainya benar. Mereka mengontrol segala perbuatannya; baik perbuatan yang dilakukan oleh penglihatan, pendengaran, mulut dan hatinya, perbuatan yang dilakukan oleh tangan, kaki, perut dan kemaluannya dengan hukum-hukum manusia bukan dengan hukum-hukum Allah. Dan mengontrol hidupnya; baik kehidupan beragama, berpolitik, berekonomi, bersosial, berbudaya, dan bermiliter dengan hukum-hukum manusia bukan dengan hukum-hukum Allah.

Setiap hari umat Islam mengucapkan kalimat Iyyaakana’budu wa iyyaakanasta’iin minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam, namun seiring dengan itu masih banyak pula kita temukan umat Islam yang menyekutu(syirik)kan Allah secara nyata (jaliy), mereka menyembah dan berdo’a kepada selain Allah, seperti: Menyembah dan berdo’a kepada patung, gunung, pepohonan, hewan, manusia (ex; pahlawan, penguasa, wali, nabi, dsb), jin, malaikat, dan sebagainya. Mempercayakan nasib atau berlindung di balik kekuatan sihir, mantera dukun, ramalan ahli nujum, azimat, susuk, benda keramat, benda pusaka, dan sebagainya. Dan yang menyekutu(syirik)kan Allah secara tersembunyi (khafiy), mereka menyembah Allah, namun motivasi dibalik penyembahan itu tidaklah ditujukan semata-mata kepada Allah, seperti: Bersyahadah, mendirikan sholat, berpuasa, berzakat/berinfaq/bersedekah, berhaji, berjihad, berhijrah, dan sebagainya, namun motivasi dalam bersyahadah, mendirikan sholat, berpuasa, berzakat/berinfaq/bersedekah, berhaji, berjihad, berhijrah, dan sebagainya tersebut bukanlah semata-mata mencari ridha’, pujian, cinta, kasih sayang (rahmat), pahala, pengampunan, dan janji-janji Allah; kebaikan hidup di dunia, dan kebaikan hidup di akhirat, tetapi boleh jadi semata-mata mencari pujian manusia, atau boleh jadi semata-mata mencari perhatian orang-orang tercinta, atau boleh jadi semata-mata mencari keuntungan material, dan sebagainya.

Setiap hari umat Islam mengucapkan kalimat Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathalladziina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam, namun seiring dengan itu masih banyak pula kita temukan umat Islam yang tidak percaya kepada kebenaran hidayah Allah, dan cenderung menyia-nyiakannya. Hal ini terlihat dari sedikit sekali jumlah kaum muslimin yang punya kemauan dan komitmen yang kuat dalam mencari dan menekuni hidayah Allah, bahkan kebanyakan diantara mereka lebih percaya, serta kuat kemauan dan komitmennya dalam mencari dan menekuni kiat-kiat hidup yang ditempuh oleh orang-orang yang dimurkai oleh Allah dan orang-orang yang sesat, seperti: kaum Atheisme, Materialisme, Komunisme Yahudiisme, Kristenisme, Sekularisme, Hedonisme, Kapitalisme, dan Imperialisme global.

Alhasil, sekalipun kalimat penegasan demi penegasan (affirmation) yang terdapat dalam surah al-Fatihah yang tidak asing lagi di lidah dan di telinga sebagian besar kaum muslimin ini, sekalipun ia selalu dibaca sedikitnya 17 kali dalam sehari semalam, namun jika semua ini hanya dijadikan slogan-slogan semata, maka bukan kepribadian al-Fatihah yang diraih, bukan kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat yang diperoleh oleh kaum muslimin secara keseluruhan. Sebaliknya, yang diraih oleh sebagian besar kaum muslimin adalah kepribadian orang-orang yang dimurkai oleh Allah dan orang-orang yang sesat, dan yang diperoleh adalah derita demi derita dan kehinaan demi kehihnaan hidup di dunia dan di akhirat.

Al-Fatihah artinya pembukaan. Dikatakan pembukaan karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya al-Qur’an. Surah ini digolongkan dalam surah-surah Makkiyah, karena ia diturunkan di kota Mekkah. Surah ini terdiri dari 7 ayat, dan surah yang pertama-tama diturunkan secara lengkap diantara surah-surah yang ada di dalam al-Qur’an. Surah ini dinamakan juga dengan “Ummul Qur’an” (induk al-Qur’an) atau “Ummul Kitab” (induk al-Kitab), karena ia merupakan induk bagi semua isi al-Qur’an atau al-Kitab, serta menjadi inti sari dari kandungan al-Qur’an atau al-Kitab secara keseluruhan. Surah ini dinamakan juga “as-Sab’ul Matsaaniy” (tujuh yang berulang-ulang), karena ia terdiri dari tujuh ayat dan dibaca berulang-ulang dalam setiap sholat.

Begitu pentingnya surah al-Fatihah, maka tanpa kita sadari Allah hendak melazimkan atau membiasakan ayat-ayat al-Fatihah agar selalu terucap dari mulut-mulutnya kaum muslimin dan agar selalu terdengar di telinga-telinganya kaum muslimin; dari raka’at-demi raka’at sholat, hingga moment demi moment yang terjadi di kalangan kaum muslimin. Namun mengapa pesan-pesan yang ada dalam surah ini tidak mampu memberikan warna dalam kehidupan kaum muslimin?”. Sungguh betapa ruginya kita kaum muslimin selaku orang-orang yang mendapat kasih sayang, mendapat perhatian besar dari Allah, yang wujud kasih sayang, wujud perhatian tersebut berupa dituntun (dihidayahi)nya kita kaum muslimin dengan ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah, namun tuntunan (hidayah) tersebut kita sia-siakan, sedikitpun tidak memberikan warna pada kehidupan kita, nauudzubillahi min dzaalik. Tuntunan (hidayah) tersebut kita jadikan tak ubahnya seperti angin yang berlalu; seketika angin itu datang, seketika itu pula pergi menghilang tanpa bekas. Setiap kali ayat-ayat al-Fatihah itu terucapkan, terdengarkan, setiap kali itu pula ia terlupakan. Memang benarlah kata Allah, sedikit sekali manusia yang berterima kasih. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Artinya:

“Katakanlah: "Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati", (tetapi) amat sedikit kamu yang bersyukur (Q.s. al-Mulk: 23).

Dan memang pantaslah bagi orang-orang yang tidak mau berterima kasih; tidak mau memaksimalkan dalam menggunakan potensi-potensinya, terutama potensi hati, pendengaran dan penglihatan dijadikan penghuni-penghuni neraka Jahanam. Hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam firman-Nya:

Artinya:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu laksana binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yang lalai” (Q.s. al-A’raf: 179).

Jika kita ingin tahu jawaban dari pertanyaan: “Mengapa surah yang biasa (lazim) diucapkan oleh kaum muslimin sekurang-kurangnya 17 kali dalam sehari semalam ini tidak memberikan perubahan pada kepribadian kaum muslimin?”. Pertanyaa ini coba kita jawab dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: “Sudahkah kita kaum muslimin mengerti arti dari setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut?”. Jika sudah, pertanyaan berikutnya: “Sudahkah kita kaum muslimin memahami pesan dari setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut?”. Jika sudah, pertanyaan berikutnya: “Sudahkah kita kaum muslimin mentafakkuri ayat-ayat Allah yang ada dalam setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut?”. Jika sudah, pertanyaan berikutnya: “Sudahkah kita kaum muslimin menzikiri asma’ dan kalam Allah yang ada dalam setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut?”. Jika sudah, dan pertanyaan terakhir: “Sudahkah kita kaum muslimin punya kemauan dan komitmen yang kuat untuk merefleksikan pesan-pesan setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut dalam karya (amal ibadah) kita sehari-hari?”.

Analoginya begini: “Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab, ada seorang sahabat yang sehari-harinya beliau bertugas sebagai hakim (qadhi). Karena letak wilayah kekuasaan hukumnya yang jauh dari pemerintahan khalifah Umar bin Khatab, beliau merasa bahwa segala tindak tanduknya tidak mendapatkan pengawasan dari khalifah Umar bin Khatab, merasa demikian hakim (qadhi) tersebut bebas berbuat aniaya (dzalim) kepada penduduk negeri setempat, dalam kasus kejahatan yang boleh dibilang sama beliau memperlakukan hukum secara tidak adil; untuk orang-orang yang kaya, hukuman bagi mereka dijatuhkan dengan seringan-ringannya, sementara untuk orang-orang yang miskin, hukuman bagi mereka dijatuhkan seberat-beratnya, bagai dua sisi mata pisau; tumpul keatas, dan tajam kebawah. Dengan perlakuan hukum yang tidak adil tersebut, banyak penduduk yang merasa kecewa dan dirugikan, dan berita ini akhirnya sampai ke telinga khalifah Umar bin Khatab. Dengan dipenuhi rasa kecewa dan marah dan dengan wataknya yang tegas, khalifah Umarpun mengambil satu tulang hewan dan menggoreskan pedangnya di tulang tersebut dengan goresan tegak lurus. Kemudian khalifah Umar bin Khatab memerintahkan pesuruh (kurir)nya untuk memberikan tulang hewan yang berisikan goresan tegak lurus tersebut kepada hakim (qadhi) yang berani berlaku tidak adil tersebut. Sesampainya tulang hewan di tangan hakim (qadhi) tersebut, hakim (qadhi) itupun bertanya kepada pesuruh (kurir) tersebut: “Untuk siapa dan dari siapa tulang ini?”. Pesuruh (kurir) itu menjawab: “Untuk kamu dari khalifah Umar bin Khatab”. Melihat pesan yang ada dari goresan pedang diatas tulang, dan mendengar nama khalifah Umar bin Khatab, mendadak hakim (qadhi) tersebut gemetaran penuh dengan rasa ketakutan. Alhasil, dengan mengerti arti goresan tegak lurus yang ada di tulang tersebut, dan dengan memahami pesan goresan tegak lurus yang ada di tulang tersebut yang memberi pesan:” Jika keadilan tidak ditegakkan oleh hakim (qadhi) tersebut, maka pedang khalifah Umarlah yang akan memberikan keadilan pada hakim (qadhi) tersebut, dan dengan mengenal watak khalifah Umar bin Khatab, dan dengan merasakan pedihnya sanksi yang akan dijatuhkan kepadanya oleh khalifah Umar bin Khatab, dan dengan kemauan dan komitmen yang kuat untuk berubah, akhirnya hakim (qadhi) tersebut menegakkan keadilan sampai akhir jabatannya”.

Pertanyaanya: “Bagaimana reaksi hakim (qadhi) tersebut, jika beliau tidak dapat mengerti arti dari goresan tegak lurus yang ada di tulang tersebut, jika beliau tidak memahami pesan goresan tegak lurus yang ada di tulang tersebut, jika beliau tidak mengenal watak khalifah Umar bin Khatab, jika beliau tidak merasakan pedihnya derita yang akan dirasakannya dari akibat sanksi yang akan dijatuhkan kepadanya, dan jika beliau tidak punya kemauan dan komitmen yang kuat untuk berubah?”. Jawabannya: “Tentu yang terjadi adalah sebaliknya; perubahan tidak akan terjadi, keadilan tidak akan ditegakkan”. Akibatnya, pedang khalifah Umarlah yang akan mengakhiri hidupnya.

Demikianpula halnya dengan surah al-Fatihah; dengan mengerti arti dari setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut, dengan memahami pesan dari setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut, dengan mentafakkuri ayat-ayat Allah yang ada dalam setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut, dengan menzikiri asma’ dan kalam Allah yang ada dalam setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut, dan dengan punya kemauan dan komitmen yang kuat untuk merefleksikan pesan-pesan setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut dalam karya (amal ibadah) kita sehari-hari, insya Allah kita kaum muslimin akan menjadi insan-insan yang berkepribadian al-Fatihah.

Sebaliknya dengan tidak mengerti arti dari setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut, dengan tidak memahami pesan dari setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut, dengan tidak mentafakkuri ayat-ayat Allah yang ada dalam setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut, dengan tidak menzikiri asma’ dan kalam Allah yang ada dalam setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut, dan dengan tidak punya kemauan dan komitmen yang kuat untuk merefleksikan pesan-pesan setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut dalam karya (amal) ibadah kita sehari-hari, maka kita kaum muslimin tidak akan menjadi insan-insan yang berkepribadian al-Fatihah, al-Fatihah hanya akan menjadi slogan-slogan semata. Benarlah, sungguh berbedalah orang-orang yang tahu dengan orang-orang yang tidak tahu. Hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam firman-Nya:

Artinya:

“…Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?". Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (Q.s. az-Zumar: 9).

Dari permasalahan inilah coba kita belajar membaca setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah dengan metodologi sebagai berikut: Pertama, mengerti arti dari setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah. Kedua, memahami pesan dari setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah. Ketiga, mentafakkuri ayat-ayat Allah yang ada dalam setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah. Keempat, menzikiri asma’ dan kalam Allah yang ada dalam setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah. Kelima, merefleksikan pesan-pesan setiap ayat-ayat yang ada dalam surah al-Fatihah tersebut dalam karya (amal) ibadah kita sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Saya mengharapkan kritik, saran, komentar yang positif dari pembaca sekalian, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi perbaikan dunia