Selasa, 28 Oktober 2008

MENYIKAPI BENCANA DENGAN SIKAP DAN PANDANGAN POSITIF

MENYIKAPI BENCANA DENGAN KARYA (AMAL) TERBAIK

Firman Allah swt:

Artinya:

“Maha suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Q.s. al-Mulk: 1-2).

Hidup bagaikan bermain dalam sebuah sinetron atau dalam sebuah pentas teater; ada peran tangis dan ada peran tawa, ada peran miskin dan ada peran kaya, ada peran hidup susah dan ada peran hidup bahagia. Dua sisi peran yang berbeda yang tidak akan pernah lepas dalam kehidupan para pemain sinetron atau pemain teater. Dan pemain yang dapat memainkan peran-peran yang diberikan Sang sutradara dengan permainan yang terbaik itulah yang akan mendapatkan pujian dan penghargaan dari Sang sutradara. Sebaliknya, pemain yang tidak dapat memainkan peran-peran yang diberikan Sang sutradara dengan permainan yang terbaik, mereka akan mendapatkan hinaan dan hukuman dari Sang sutradara.

Begitulah hidup di atas dunia ini; tangis dan tawa, miskin dan kaya, susah dan bahagia adalah telah menjadi sunnatullah (ketetapan) Allah. Sekalipun Allah memberikan hak kebebasan kepada manusia untuk memilih dan meraih satu sisi kehidupan saja (kehidupan yang dipenuhi dengan tawa, kaya, dan bahagia), namun satu sisi kehidupan yang lain (kehidupan yang dipenuhi dengan tangis, miskin,dan susah) tidak akan dapat dihindari oleh semua manusia. Dan manusia yang dapat menjalani hidup ini, baik kehidupan yang dipenuhi dengan tawa, kaya, dan bahagia, maupun kehidupan yang dipenuhi dengan tangis, miskin,dan susah dengan karya (amal) terbaik itulah yang akan mendapatkan pujian, ridha, cinta, kasih sayang dan surga-Nya Allah. Sebaliknya, manusia yang tidak dapat menjalani hidup ini, baik kehidupan yang dipenuhi dengan tawa, kaya, dan bahagia, maupun kehidupan yang dipenuhi dengan tangis, miskin,dan susah dengan karya (amal) terbaik, mereka adalah orang-orang yang akan mendapatkan murka dan siksa-Nya Allah.

Kini dunia sedang dihadapkan dengan berbagai macam bencana, yang beberapa diantaranya; bencana sosial, bencana ekonomi, dan bencana alam. Bencana memang menyisakan banyak luka, baik luka pisik maupun luka psikologis, menimbulkan banyak kehilangan harta, baik rumah, emas permata, dan bahkan melenyapkan banyak nyawa. Namun bencana demi bencana janganlah dijadikan dalil pembenaran bagi manusia untuk melakukan karya (amal) tercela, seperti menjerumuskan diri ke lembah maksiat, obat-obatan terlarang, aksi bunuh diri, dan bahkan penukaran akidah tauhid kepada kemusyrikan. Ibarat pepatah: “Sudah jatuh ketimpa tangga”. Sudah ditimpa bencana, ditimpa dosa-dosa besar lagi. Dunia bukanlah akhir perjalanan hidup manusia, kegagalan hidup di dunia bukanlah kegagalan yang hakiki, kegagalan hidup di dunia tidaklah membuat manusia hina. Akhirat adalah kebutuhan hidup yang hakiki, kegagalan hidup di akhirat adalah kegagalan yang hakiki, kegagalan hidup di akhirat itulah kehinaan yang sejati.

Allah tidak menciptakan segala sesuatunya dengan sia-sia (Q.s. Ali-‘Imran: 192). Hanya tinggal bagaimana manusia dapat membangun pikiran dan sikap positif terhadap kehidupan ini. Atau dengan kata lain, bagaimana manusia dapat menyikapi hidup ini dengan karya (amal) yang terbaik; Kotoran sapi atau kerbau jika dipandang dan disikapi secara negatif, maka kotoran tersebut tetaplah akan menjadi kotoran yang berbau dan menimbulkan penyakit. Namun jika kotoran sapi atau kerbau tersebut dipandang dan disikapi secara positif, maka kotoran tersebut insya Allah akan dapat memberikan nilai dan manfaat bagi manusia, seperti menjadi pupuk, biogas, dan sebagainya. Nasi yang telah menjadi bubur jika dipandang dan disikapi secara negatif, maka nasi yang telah menjadi bubur tetaplah menjadi bubur yang tidak enak rasanya. Namun jika nasi yang telah menjadi bubur dipandang dan disikapi secara positif, maka nasi yang telah menjadi bubur tersebut insya Allah akan dapat memberikan nilai dan manfaat bagi manusia, seperti dibuat bubur ayam yang terasa lezat dan bernilai jual.

Demikian pula halnya pada berbagai macam bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia, yang beberapa diantaranya; bencana sosial, bencana ekonomi, dan bencana alam. Jika bencana-bencana tersebut dipandang dan disikapi secara negatif, maka bencana-bencana tersebut tetaplah akan menjadi bencana, bahkan akan menimbulkan bencana demi bencana yang lebih parah lagi. Namun jika bencana-bencana tersebut dipandang dan disikapi secara positif, maka bencana-bencana tersebut insya Allah akan dapat memberikan nilai dan manfaat bagi manusia; baik nilai dan manfaat yang bersifat fisik dan material, maupun nilai dan manfaat yang bersifat mental dan spiritual.

Banyak manusia atau bangsa yang meraih kesuksesannya setelah didera oleh berbagai macam bencana; Nabi Ibrahim as menjadi khaliilullah (orang yang paling dicintai oleh Allah) setelah terlebih dahulu dihadapkan pada hukuman bakar dan pengusiran yang dilakukan oleh bapaknya sendiri yang ketika itu menjabat sebagai raja, do’a yang memakan waktu begitu lama hingga usia yang sangat tua untuk mendapatkan anak sebagai penerus dakwah, dan perintah untuk menyembelih putra tercinta. Nabi Yusuf as menjadi petinggi negeri setelah terlebih dahulu dihadapkan dengan percobaan pembunuhan, pembuangan oleh saudara-saudaranya, fitnah dari keluarga kerajaan yang menyebabkan dirinya berada dalam penjara beberapa tahun lamanya. Nabi Ayyub as mendapat gelar ulul ‘Azmi setelah terlebih dahulu dihadapkan pada bencana penyakit yang sangat parah, harta yang musnah, dan ditinggalkan keluarga tercinta. Nabi Muhammad saw menjadi Rasul Allah untuk segala kaum yang ada di dunia, penutup para nabi, manusia yang paling dimuliakan Allah, dan manusia yang ditempatkan sebagai tokoh nomor satu di dunia setelah terlebih dahulu dihadapkan pada kehidupan yatim piatu di masa kanak-kanak, kemiskinan sejak masa kanak-kanak, lingkungan kehidupan sosial yang menyekutu (mensyirik)kan Allah, dihina, difitnah, dilempari batu dan diusir dari kota Tha’if, menyaksikan derita demi derita dan kematian demi kematian dari para kerabat dan sahabat, dan percobaan pembunuhan demi pembunuhan di berbagai medan hingga nyaris mati di medan perang Uhud. Dan banyak lagi manusia atau bangsa di berbagai belahan dunia yang meraih kesuksesannya setelah didera oleh berbagai macam bencana, seperti Jepang bangkit menjadi bangsa yang maju setelah terlebih dahulu dibom atom oleh sekutu.

Namun sebaliknya, tidak sedikit pula manusia yang gagal setelah didera oleh berbagai macam bencana; mereka bukan bangkit untuk melepaskan diri dari derita yang ditimbulkan oleh bencana tersebut dan bangkit untuk meraih kesuksesan, namun mereka semakin menceburkan diri ke dalam bencana yang lebih dalam lagi; mereka kehilangan akal, mereka jatuh ke lembah maksiat atau obat-obatan terlarang, mereka melakukan aksi bunuh diri, dan bahkan mereka menukar akidah tauhid kepada kemusyrikan.

Segala kenikmatan dan kesuksesan yang diraih manusia; kenikmatan dan kesuksesan berakidah dan beragama, kenikmatan dan kesuksesan berpolitik, kenikmatan dan kesuksesan berekonomi, kenikmatan dan kesuksesan bersosial dan berbudaya, kenikmatan dan kesuksesan bermiliter, semuanya adalah datangnya dari Allah. Allah pendesign, pencipta dan penyedia segala kenikmatan dan kesuksesan, dan Allah pula yang memotivasi, memerintah, dan menuntun manusia untuk meraih kenikmatan dan kesuksesan tersebut. Sebaliknya, segala bencana dan kegagalan yang menimpa manusia; bencana dan kegagalan berakidah dan beragama, bencana dan kegagalan berpolitik, bencana dan kegagalan berekonomi, bencana dan kegagalan bersosial dan berbudaya, bencana dan kegagalan bermiliter, semuanya adalah datangnya dari manusia. Allah memang pendesign, pencipta, penyedia materi dan sistem bencana, namun Allah tidaklah memerintahkan manusia untuk memilih bencana dan kegagalan, bahkan Allah tegas melarang manusia mencampakkan dirinya ke lembah bencana dan kegagalan (Q.s. al-Baqarah: 195), Allah memotivasi, memerintah, dan menuntun manusia untuk menghindari bencana dan kegagalan, namun manusia diberi oleh Allah hak pilih, kebebasan memilih; memilih kenikmatan dan kesuksesan atau memilih bencana dan kegagalan.

Firman Allah swt:

Artinya:

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) diri kamu sendiri…” (Q.s. an-Nisa: 79).

Berbagai macam bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia tidak lepas dari tiga dimensi hukum:

Pertama, hukum sebab akibat.

Tidaklah bencana itu datang menimpa manusia di berbagai belahan dunia, melainkan karena manusia itu sendiri yang mengundang bencana itu datang.

Firman Allah swt:

Artinya:

“Dan apa saja bencana yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri…” (Q.s. asy-Syura: 30).

Pertunjukan yang indah akan mengundang cinta bagi setiap yang memandang. Sebaliknya, Pertunjukan yang jelek akan mengundang kebencian bagi yang memandang.

Begitulah apabila manusia telah menunjukkan moralitas yang rendah di hadapan Allah; perintah-perintah Allah telah diabaikan (ex: meninggalkan sholat, tidak berpuasa, tidak berzakat, tidak berhaji, tidak berjihad di jalan Allah), dan larangan-larangan Allah telah dilanggar (ex: kemusyrikan, perzinahan, perjudian, korupsi, pembunuhan dan berbagai maksiat lainnya telah merajalela), berarti manusia telah mempertunjukan tontonan yang jelek di hadapan Allah, dengan mempertunjukan tontonan yang jelek di hadapan Allah berarti manusia mengundang kebencian, kemurkaan Allah, dan dengan mengundang kebencian dan kemurkaan Allah berarti manusia mengundang azab Allah; Tidakkah cukup bukti bagi kita, ketika Allah memusnahkan umat nabi Nuh as dengan banjir besar melebihi gunung. Tidakkah cukup bukti bagi kita, ketika Allah memusnahkan kaum ‘Aad dengan angin kencang. Tidakkah cukup bukti bagi kita, ketika Allah memusnahkan kaum Tsamud dengan halilintar. Dan tidakkah cukup bukti bagi kita ketika Allah mengirim badai topan, hama belalang, hama kutu, hama kodok, mengubah air minum menjadi darah, dan menimpakan kekeringan yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan kepada Fir’aun dan pengikutnya.

Firman Allah swt:

Artinya:

“Dan tidak ada satu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari Kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfudz)” (Q.s. al-Isra’: 58).

Apabila manusia telah menunjukkan moralitas yang rendah di hadapan sesama manusia; perkataan sudah tidak terpelihara (ex: menghina, menfitnah), tangan sudah tidak terpelihara (ex: mengkorupsi, mencuri hak-hak orang lain, menyiksa, melakukan teror dan membunuh manusia tanpa hak), berarti manusia telah mempertunjukan tontonan yang jelek di hadapan sesama manusia, dengan mempertunjukan tontonan yang jelek di hadapan sesama manusia berarti manusia mengundang kebencian dan permusuhan sesama manusia, dan dengan mengundang kebencian, permusuhan sesama manusia berarti manusia mengundang peperangan atau bencana sosial.

Dan apabila manusia telah menunjukkan moralitas yang rendah terhadap alam; penggundulan hutan, penciptaan pemanasan global, dan sebagainya, berarti manusia telah merusak ekosistem alam, dengan merusak ekosistem alam berarti manusia menciptakan alam yang tidak bersahabat, dan dengan menciptakan alam yang tidak bersahabat berarti manusia mengundang bencana alam.

Firman Allah swt:

Artinya:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka…” (Q.s. ar-Rum: 41).

Kedua, hukum ketetapan atau kepastian.

Tidaklah bencana itu datang menimpa manusia di berbagai belahan dunia, melainkan sudah menjadi ketetapan Allah.

Firman Allah swt:

Artinya:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya…” (Q.s. al-Hadid: 22).

Setiap manusia pasti berjalan menuju ke arah ajal kematiannya, ketika ajal kematian tiba maka tidak ada satupun manusia yang dapat menunda kematian tersebut atau menyegerakannya walaupun hanya sedetik. Dan bumipun pasti berjalan menuju ke arah ajal kehancurannya (Kiamat), perjalanan bumi menuju ke arah ajal kehancurannya (Kiamat) dapat diibaratkan dengan sebongkah es yang kita arahkan ke pusat api; apabila es tersebut jauh dari pusat api maka proses pencairan es akan berjalan dengan lambat, dan apabila es tersebut didekatkan dan semakin dekat ke pusat api maka akan semakin cepat es tersebut mengalami pencairan. Begitupula dengan bumi; apabila bumi tersebut jauh dari ajal kehancurannya (Kiamat) maka proses bencana kehancuran bumi akan berjalan dengan lambat, dan apabila bumi tersebut didekatkan dan semakin dekat ke ajal kehancurannya (Kiamat) maka akan semakin cepat bumi tersebut menunjukkan tanda-tanda kehancurannya (Kiamat).

Ketiga, hukum kemungkinan.

Tidaklah bencana itu datang menimpa manusia di berbagai belahan dunia, melainkan dengan izin Allah.

Firman Allah swt:

Artinya:

“Tidak ada suatu bencanapun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah…” (Q.s. at-Taghabun: 11).

Bencana kematian memang telah menjadi ketetapan Allah, ketika ajal kematian tiba maka tidak ada satupun yang bernyawa yang dapat menunda kematian tersebut atau menyegerakannya walaupun hanya sedetik. Namun ketika Iblis berdo’a memohon perpanjangan usia hingga hari dibangkitkan, dan do’a Iblis mendapat pengabulan dari Allah, maka bencana kematian Iblispun mengalami penundaan hingga hari kebangkitan (Q.s. al-A’raf: 13).

Sifat api yang panas dan membakar memang telah menjadi ketetapan Allah. Namun ketika Allah menyelamatkan nabi Ibrahim as dari percobaan pembunuhan dengan dibakar hidup-hidup di dalam api yang begitu besar yang dilakukan oleh penguasa negeri Mesir, sifat api berubah menjadi dingin dan tidak membakar (Q.s. al-Anbiya: 69).

Kelahiran manusia setelah Adam as memang melalui proses perkawinan sel sperma dengan sel telur dan ini telah menjadi ketetapan Allah. Namun ketika Allah hendak mengutus seorang Rasul kepada bani Israil, Allah ciptakan Isa as secara langsung sebagaimana Allah ciptakan Adam as. (Q.s. Maryam: 20-21 dan Ali-‘Imran: 45-47).

Untuk naik ke bulan memang memerlukan alat penerbangan dan ini telah menjadi ketetapan Allah. Namun ketika Allah memperjalankan hamba-Nya Muhammad saw hingga ke langit ke-7 dan Sidratul Muntaha, Allah mengirim malaikat Jibril dan seekor binatang tunggangan yang dapat berjalan super cepat hanya dalam waktu semalam (Q.s. al-Isra’: 1 dan an-Najm: 1-18).

Bencana tidak punya mata, bencana bisa menimpa siapa saja; orang-orang yang berdosa dan orang-orang yang tidak berdosa, anak-anak hingga orang tua, laki-laki maupun perempuan. Maka hendaklah kita saling nasehat menasehati selaku manusia global tanpa terkecuali yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk mengemban tugas kekhalifahan, memelihara eksistensi manusia dan alam lingkungannya agar tidak musnah sebelum ajal kemusnahan (Kiamat) itu tiba dengan sendirinya.

Bagi orang-orang yang berdosa jadikanlah bencana itu sebagai cermin besar yang dapat menunjukkan siapa dirinya, bencana adalah raport merah yang harus segera diperbaiki. Sementara bagi orang-orang yang tidak berdosa, jadikanlah bencana sebagai alat uji untuk meraih nilai dan meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional hingga kecerdasan spiritual. Atau dengan kata lain, mendulang emas di balik tumpukan pasir dan berbatuan, insyaa Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Saya mengharapkan kritik, saran, komentar yang positif dari pembaca sekalian, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi perbaikan dunia